Selasa, 08 November 2011

laporan praktikum blok2

LAPORAN PRAKTIKUM
Balai Pengembangan Mutu Bibit dan Pakan Ternak
(BPMBPT)
BLOK 2



DISUSUN OLEH :
FADLI MAMUN PANCAR SM
11/315841/KH/07133



FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2011

I.       Tujuan Praktikum
Adapun praktikum lapangan di Balai Pengembangan Mutu Bibit dan Pakan Ternak (BPMBPT) Pakem, Yogyakarta ini bertujan agar para mahasiswa dapat mengaplikasikan ataqu membandingkan materi kuliah yang telah didapatkan dengan fasilitas yang ada di Balai Pengembangan Mutu Bibit dan Pakan Ternak (BPMBPT) Pakem, Yogyakarta tersebut.


















II.    TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Hewan Produksi
II.1.1. Defenisi
            Hewan produksi adalah segala jenis binatang yang dipelihara untuk tujuan diambil produksinya, berupa daging, susu atau telur. Produk tersebut bisa diperoleh dari berbagai jenis ternak seperti ayam, kalkun, puyuh, babi,kambing, sapi domba dan kelinci. Kuda selain sebagai hewan produksi juga menjadi hewan kesayangan. Kali ini kita membahas hewan produksi ternak mamalia yang dikembangkan di BPMBPT.( http://www.scribd.com/doc/36658045/)
 II.1.2. Macam-macam Hewan Produksi
1.      Sapi
a.       Taksonomi sapi (Ida Tjahajati,2011)
Kerajaan    : Animalia
Filum         : Chordata
Kelas         : Mammalia
Ordo          : Artiodactyla
Familia       : Bovidae
Sub family : Bovinae
Genus        : Bos
Spesies       : B. Taurus
           
b.      Fisiologi Sapi

Fenomena
Rerata
1.      Pubertas
2.      Lama estrus
3.      Panjang siklus estrus
4.      Saat ovulasi
5.      Lama bunting
6.      Birahi setelah melahirkan
12 (8 – 18 bulan)
16 (6 – 20 jam)
21 (14 – 24 hari)
12 (2 – 26 jam)
283 (240 – 330 hari)
35 (16 – 90 hari)

c.       Jenis-Jenis Sapi
1.      Sapi (Ida Tjahajati,2011)

Ø  Sapi Perah
Sapi perah yakni sapi yang diternakan dengan tujuan untuk pengambilan susu yang berada dalam masa-masa menyusui. Contohnya yakni :
Frishien Holstein, Jersey, Shorthorn, Sahiwal, Ayrshire, Australian Milking Zebu dan lain-lain.
Ø  Sapi Pedaging
Sapi pedaging yakni sapi yang diternakan dengan tujuan digemukan agar dagingnya dapat diambil untuk dikonsumsi oleh manusia. Contohnya yakni ;
Sapi Angus, Sapi Hereford, Sapi Devon, Sapi Limousine, Sapi Simmental/Fleckvieh, Sapi Brahman, Sapi Bali, Sapi Madura, Sapi Peranakan Ongole dan lain-lain.
2.      Domba dan Kambing
a.      Domba(Widiyono, 2009)
Taksonomi Domba
Kerajaan          : Animalia
Filum               : Chordata
Kelas               : Mammalia
Ordo                : Artiodaktil (berkuku belah)
Sub ordo          : Ruminansia
Famili             : Caprinae
Rumpun           : 1. Nemorhaedini (genus: Nemorhaedinus, Capricornis)
  2. Budorcatini
  3. Rupicaprini (genus: Rupicapra, Oreamnos)
  4. Caprini (genus: Capra, Ammotragus,   Hemitragus, Pseudois, Ovis)
  5. Ovibovini
Sebagai Ternak berasal dari Capra aegragus hyrcus (kambing jinak ) dan Ovis ammon aries (domba jinak)
b.      Kambing (Widiyono, 2009)
Taksonomi kambing
Kerajaan    : Animalia
Filum         : Chordata
Kelas         : Mammalia
Ordo          : Artiodactyla
Familia       : Bovidae
Sub family : Bovinae
Genus        :Copra
Spesies       : C.A Aegagrus

karakteristik
Domba
Kambing
1.      Ekor
2.      Tubuh
3.      Jenggot
4.      Kebiasaan makan



5.  Siklus birahi
6.  Lama birahi
7.  Birahi pertama
8.  Lama bunting
9.  Interval beranak
10. Jumlah anak
11. Berat lahir
12. Umur sapih


13. Pertumbuhan
14. Kebiasaan merumput
Ke bawah
Umumnya tertutup wol kecuali hairy sheep
Tidak punya
Bergerombol
Jinak

17 hari
30 jam
Umur 8 – 10 bulan
141 – 159 hari
7 – 8 bulan
1-4 ekor
1-4 kg
5-6 bulan


14-24 bulan
Pagi dan sore
Ke atas
Umumnya tertutup rambut kecuali kambing Angora, Kasmir
Punya (umum jantan)
Mencari sendirian
Mungkin agresif
14 – 21 hari
24 – 21 hari
Umur 10–12 bulan
147 hari
7 – 8 bulan
1-3 ekor
4 bulan



18-20 bulan
Sepanjang hari



3.      Kerbau
Taksonomi Kerbau :
Kerajaan    : Animalia
Filum         : Chordata
Kelas         : Mammalia
Ordo          : Artiodactyla
Familia       : Bovidae
Sub family : Bovinae
Genus        :Babulus
Spesies       : B. Bubalis

II.1.3. Teknologi Reproduksi

1.      Inseminasi Buatan (Rahadi, 2008) 

Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik adalah suatu cara atau teknik untuk memasukkan mani (spermatozoa atau semen) yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari ternak  jantan kedalam saluran alat kelamin betina denganmenggunakan metode dan alat khusus yang disebut insemination gun.

Tujuan Inseminasi Buatan
a. Memperbaiki mutu genetika ternak.
b. Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yangdibutuhkan sehingga mengurangi biaya.
c. Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luasdalam jangka waktu yang lebih lama.
d.Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur. 
e.Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin.

2.      Transfer Embryo

Transfer embrio (TE) merupakan generasi kedua bioteknologi reproduksi setelah inseminasi buatan (IB). Teknologi ini memiliki kelebihan dari ilmu reproduksi lainnya seperti IB. Transfer embriomerupakan suatu proses, mulai dari pemilihan sapi-sapi donor,sinkronisasi birahi, superovulasi, inseminasi, koleksi embrio, penanganandan evakuasi embrio, transfer embrio keresipien sampai pada pemeriksaan kebuntingan dan kelahiran. Dengan TE seekor betina unggul yang disuperovulasi kemudiandiinseminasi dengan sperma pejantan unggul  menghasilkan sekitar 40 ekor anak sapi unggul dan seragam setiap tahun, bila dibandingkandengan perkawinan alam atau IB hanya mampu melahirkan 1 ekor anak sapi pertahun. Bahkan bisa dibuat kembar identik dalam jumlah yang banyak dengan teknik cloning 

Keuntungan Transfer Embryo :
1.       Jenis kelamin pun dapat ditentukan.Manfaat Transfer Embryo :
2.         Penyediaan bibit ternak unggul yang seragam.
3.         Peningkatan produksi susu, kualitas daging dan pertumbuhan yangcepat.

3.   In Vitro Fertilization (IVF)(Rahadi, S., 2008.Mengenal Teknologi Reproduksi)

Kematian induk bukan lagi merupakan berakhirnya proses untuk meneruskan  keturunan. Dengan teknik bayi tabung (IVF), sel telur yang beradadalam ovarium betina berkualitas unggul sesaat setelah mati dapat diprosesdiluar tubuh sampai tahap embrional. Selanjutnya embrio tersebut ditransfer  pada resipien (betina lain) sampai dihasilkan anak. Resipien tersebut tidak harus unggul, hanya dibutuhkan kemampuan untuk bunting. Produksi embrio  dalam jumlah banyak (baik dengan teknik TE maupun bayi tabung) ternyata juga dapat menghasilkan masalah karena keterbatasan resipien  yang siap menerima embrio. Untuk mengatasi masalah tersebut dikembangkan metode pembekuan embrio.







III.             MATERI DAN METODE
Materi atau alat yang digunakan adalah :
1.      Jas lab
2.      Kamera
3.      Payung
4.      Ballpoint
5.      Buku catatan
Metode yang digunakan adalah metode lapangan dimana kita melihat berdasarkan realita seperti tingkah laku sapi di BPMBPT, morfologi dan lain-lain. Selain itu pula kita dapat bertanya kepada petugas yang ada di BPMBPT tentang hasil produk seperti susu daging sapi, semen beku dan lain sebagainya. Dan juga selain sumber yang didapatkan dibalai tersebut, juga digunakan perbandingan literatur yang telah didapatkan pada pembelajaran sebelumnnya.















IV.              HASIL PRAKTIKUM

IV..1. Profil Balai Pengembangan Mutu Bibit dan Pakan Ternak (BPMBPT)

VISI        : Mendukung program ketahanan pangan melalui peningkatan mutu genetik dan produktivitas ternak.
MISI                : Menyediakan semen beku sapi potong, ternak bibit sapi perah, dan pakan ternak berkualitas.
MOTO : “ BIBIT BERMUTU, TERNAK PRODUKTIF







IV.2. Hasil Praktikum Tentang BPMBPT
Dalam usahanya melakukan pelayanan kepada masyarakat, UPTD BPMBPT memberikan layanan barang dan jasa di bidang peternakan. Sesuai dengan kegiatannya dalam hal pengembangan peternakan, secara teknis UPTD BPMBPT Dinas Pertanian Provinsi DIY mengelompokkan pelayanannya sebagai berikut ;
A. Pelayanan Barang :
 Semen beku sapi potong dan sapi perah
 Ternak bibit sapi perah
 Bibit hijauan makanan ternak (HMT)
 Susu dan hasil olahannya
B. Pelayanan Jasa :
 Konsultasi dan informasi peternakan
 Inseminasi Buatan (IB) dan kesehatan hewan
 Ko-Ass mahasiswa kedokteran hewan
 Praktek Kerja Lapang dan magang (mahasiswa & sekolah kejuruan)

Hingga tahun 2010 ini, pengguna jasa UPTD-BPMBPT Dinas Pertanian Provinsi DIY tercatat berasal dari berbagai lapisan masyarakat antara lain; Kelompok-kelompok peternak, pelajar sekolah dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta seperti UGM, Universitas Wangsa Manggala Yogyakarta, Akademi Brahmaputra Yogyakarta, Universitas Atmajaya Yogyakarta, Universitas Lampung, Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP) Ambon, Kelompok Peternak Sapi Perah Muntilan-Magelang, petugas Dinas Peternakan Jawa Tengan dan dari Sulawesi Utara.
Balai Pengembangan Mutu Bibit dan Pakan Ternak Dinas Pertanian ( BPMBPT), yang berada di Jalan Palagan Km 15 Purwobinangun, Sleman, Yogyakarta.
Produksi semen mani beku dari setiap ekor sapi bibit unggul dari Australia yang harganya mencapi 100 juta per ekor ini dapat mencapai 75 dosis per kali proses. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan pembibitan bibit unggul untuk peternakan sapi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Setiap minggu dua kali proses,  jadi perkiraan per bulan dapat menghasilkan 600 dosis per bulan. Menurutnya sapi bibit unggul yang beratnya rata-rata 1,6 ton ini dapat dijual setelah usianya kurang lebih mencapai 5 – 6 tahun. Padahal usia 5-6 tahun tentu masih usia produktif. Karena itu sapi tidak dijual afkiran, karena masih produktif. Hal  ini sebagai saran penghematan dan tidak hanya dijual sebagai daging.
Metode yang digunakan untuk merangsang sapi jantan menghasilkan semen mani beku, adalah menggunakan sapi jantan untuk merangsang sapi jantan yang lain terangsang. Setelah terjadi puncak rangsangan, kemudian baru digunakan vagina buatan yang terbuat dari karet yang suhunya disesusaikan dengan suhu tubuh sapi, untuk memperoleh semen mani beku tersebut.
Upaya yang dilakukan untuk menjaga kesehatan sapi, digunakan dokter hewan dan “dukun sapi”, terutama untuk mengatasi keseleo pada kaki. “Biasanya setelah dua kali dipijat dukun sapi, sudah baik kembali.” Untuk saat ini pemasaran semen beku masih dilakukan di wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal ini karena untuk pemasaran di daerah lain seperti Singosari, Jombang dan Jawa Tengah telah mimiliki produksinya sudah cukup banyak. Jadi sekarang baru dijual di lingkup wilayah Yogyakarta saja.













V.        PEMBAHASAN

V.1.  Jenis Hewan Produksi yang Dikembangkan di BPMBPT

1.            Frishien Holstein
Bangsa sapi ini berasal dari netherland. Warna tubuhnya hitam belang putih dengan pembatas yang jelas. Terdapat warna putih berbentuk segitiga didahi dengan kepala panjang. Sebagian kevil saja berwarna hitam atau sebaliknya. Ekornya berwarna putih. Saat dewasa berat badannya mencapaik 700 kg.
 















Sapi ini mampu menghasilkan susu 50.000 liter/tahun, dengan derajat keasaman 5-8, kadar lemaknya 3,5-3,7dan tidak ada gumpalan/ asam. Selain itu juga sapi ini mampu menghasilkan ternak bibit pedet 20 ekor/tahun dengan standar mutu yang baik seprti pedet sehat, tidak cacat dan berat lahir 30-35 kg.










1.      Sapi Limousine
Sapi ini berwarna coklat agak kelabu, bentuk tubuh besar, panjang kompak dan padat sangat cocok dipelihara di Indonesia. Sapi ini sangat dikenal dn disukai peternak karena selain pertumbuhannya sangat cepat, BB jantan mencapai 1 ton. Selain dagingnya, hewan ini juga diambil semen bekunya untuk melakukan inseminasi buatan dengan kapasitas Semen beku 40.000 ds./tahun.
 Dengan volume dosis 0,25/straw, konsentrasi 25 juta sel /dosis, mortalitas freezing minimal 50% .

2.      Sapi Simental
Sapi tipe ini merupakan sapi dwiguna selain produk susunya yang diambil juga  dagingnya. Tubuhnya kekar dan berotot, pertumbuhan sangat baik warna tubuh krem kecoklatan agak ksedikit merah dan ujung ekor berwarna putih. hewan ini juga diambil semen bekunya untuk melakukan inseminasi buatan dengan kapasitas Semen beku 40.000 ds./tahun.
 Dengan volume dosis 0,25/straw, konsentrasi 25 juta sel /dosis, mortalitas freezing minimal 50% .




V.1.  Teknik Reproduksi Dikembangkan di BPMBPT
          Teknik reproduksi yang digunakan adalah inseminasi buatan.  Inseminasi  Buatan  (IB)  adalah  proses  pemasukan  semen  (mani)  ke  dalam saluran reproduksi (kelamin) betina dengan menggunakan alat buatan manusia. Tujuan penerapan teknologi IB adalah untuk introduksi/ penyebaran pejantan unggul di suatu daerah yang tidak memungkinkan untuk kawin alam serta pelestarian plasma nutfah ternak jantan yang diinginkan.  Prosedur inseminasi buatan tersebut meliputi : 
v  Seleksi Pejantan 
Pejantan-pejantan  unggul  diseleksi  dari  program  breeding  terencana  dipakai dalam penyediaan semen beku. Seekor pejantan unggul dapat  menghasilkan 25.000 ekor  anak  per tahun melalui  penggunaan  semen  beku, sehingga selama  hidup dari seekor pejantan unggul dapat diperoleh 150.000 ekor anak.
v  Penampungan Semen
 Penampungan semen dapat dilakukan dengan cara menggunakan vagina buatan,  elektro ejakulator, dan massage (pengurutan). Penampungan semen  yang umum dan rutin dilakukan dalam kegiatan IB adalah  menggunakan vagina buatan. Vagina buatan adalah selongsong karet yang keras dan kuat kemudian dilapisi dengan karet yang lembut dan diberi pelicin (vaselin), salah satu ujungnya dilengkapi dengan tabung untuk menampung semen. Metode penampungan semen dengan vagina buatan  dilakukan  dengan  membuat  pejantan  berejakulasi  dalam  vagina  buatan,  kemudian semen ditampung di dalam tabung.
     















v  Penilaian Semen
Sesudah  penampungan  semen,  dilakukan  evaluasi  semen  berupa  penilaian keadaan umum (volume, warna, dan konsistensi), motilitas (gerakan massa dan gerakan individual), konsentrasi dan penilaian morfologik (kelainan primer dan  sekunder).
 









v  Penampungan Semen
Pengenceran semen dapat dilakukan dengan menggunakan bahan seperti buffer isotonik yang berisi karbohidrat sebagai sumber energi, protein pelindung, antibiotik, dan  semen  yang  akan  dibekukan  ditambah  dengan  crioprotectan  (glycerol  atau dimethylsulphoxide).
Semen sapi dapat diencerkan 10 – 75 kali, semen domba 5 – 10 kali, dan semen kambing 10 – 25 kali, tetapi semen babi dan kuda hanya 2 – 4 kali saja. Satu kali inseminasi diperlukan 10 – 15 juta spermatozoa motil pada sapi, 200 juta pada domba dan kambing, 500 juta pada  babi, dan 1.500 juta pada kuda. Dengan dosis inseminasi ini dapat dihitung berapa banyak betina dapat diinseminasi dari seekor pejantan.

v  Penyimpanan/Pembekuan Semen
 Semen  yang  telah  diencerkan  yang  tidak  dapat  langsung  digunakan,  dapat disimpan atau dibekukan. Semen dimasukkan ke dalam straw plastik volume 0,5 cc atau 0,25 cc (mini straw) kemudian dibekukan dalam nitrogen cair pada suhu –196 C didalam kontainer.
 

v  Thawing/ Pencairan Semen
Semen yang telah dibekukan dapat dicairkan kembali (thawing) pada temperatur  tertentu, kemudian langsung diinseminasikan ke dalam cervix atau corpus uteri. Semen yang sudah dicairkan tidak boleh dikembalikan lagi/ dibekukan tetapi harus segera dideposisikan pada saluran reproduksi betina. 









DAFTAR PUSTAKA
         Anonim,2011. Profil UPTD-BPMBPT Unit Pelaksana teknis Dinas balai Pengembangan Mutu
Bibit dan Pakan Ternak. Dinas Pertanian Daerah istimewa Ygyakarta: 3 November 2011
Hardjosubroto,W.1996. Pemuliaan Ternak.Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
S, Rahadi.2011. Sejarah dan Manfaat Inseminasi Buatan. http/ilmuternakwordpress.com.2 november 2011
 Tjahajati, Ida.2011. Sapi Perah dan Sapi Pedaging.Bahan Kuliah Pengantar Fakultas Kedokteran Hewan UGM. Yogyakarta
www.biotek.lipi.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=37:Embrio&catid=51&Itemid=55. Diak-ses tanggal 31 November 2011
 www.ucmp.berkeley. edu/mammal/artio/artiodactyla.html. Diakses tanggal 1 November 2011



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar